News

Ternyata Segini Gaji CEO di Perusahaan Silicon Valley: Sampai 280 Miliar!

Ketika kita mendengar Silicon Valley, kita biasa mengasosiasikannya dengan perusahaan berbasis teknologi yang berlokasi di Silicon Valley, Amerika Serikat tepatnya di negara bagian California. Dengan beberapa perusahaan teknologi raksasa yang bertengger seperti Apple, Alphabet, Adobe, Intel, dan masih banyak lagi. Pertanyaan yang ada di sebagian orang mungkin: berapa gaji CEO di perusahaan Silicon Valley? Mari kita bahas lebih lengkap.

Kita seringkali mendengar sehelat perdebatan di kolom komunitas media sosial tentang kompensasi, benefit, dan gaji dari seorang CEO di banyak perusahaan yang berada di Silicon Valley, baik di startup, maupun di perusahaan publik. Banyak orang juga mempertanyakan tentang income inequality atau ketimpangan sosial akibat dari pendapatan yang berbeda jauh. Bahkan, dilaporkan juga bahwa beberapa orang mempertanyakan tentang keadilan, moralitas, dan peran dari bisnis di jantung kota San Fransisco itu.

Baca juga: Mengengal Konsep Elevator Pitch yang Banyak Dipakai di Silicon Valley

Silicon Valley: Rumah Bagi Perusahaan Ternama di Dunia

Silicon Valley adalah nama daerah di pesisir pantai barat California, AS, yang menjadi rumah bagi banyak perusahaan ternama di dunia. Beberapa perusahaan tersebut adalah Apple, Alphabet, Adobe, Intel, Meta, LinkedIn, PayPal, Zoom, Wells Fargo, Visa, eBay, HP, Zoom, dan masih banyak lagi. Terdapat lebih dari 100 startup di Silicon Valley yang mendapatkan pendanaan di atas $20 juta USD. Ini adalah pusat aktivitas bisnis paling berpengaruh di dunia.

Berdasarkan studi terbaru yang dirilis oleh Forbes Insights, menggunakan data dari Equilar, kita dapat menemukan bahwa rata-rata gaji seorang CEO dari 100 perusahaan teratas di Silicon Valley pada tahun 2020 adalah $18,7 juta USD per tahun atau setara dengan 280 miliar rupiah per tahun. Data ini menunjukkan kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya hanya $15,7 juta USD. CEO di perusahaan Silicon Valley yang digaji paling besar adalah Elon Musk (Tesla), sebesar $23,9 miliar USD dari total kompensasi karena digabungkan dengan bonus opsi saham. Walau sekarang Tesla memindahkan kantor pusatnya ke Texas.

Bagaimanapun juga, angka gaji ini tidak sepenuhnya merepresentasikan jumlah kompensasi dan pendapatan dari seluruh perusahaan yang ada di Silicon Valley. Karena di Silicon Valley juga terdapat beberapa startup di bidang industri yang berbeda-beda. Figur di atas hanyalah merepresentasikan dari 100 perusahaan teratas yang rata-rata dari bidang teknologi. Industri lainnya mungkin mengimplementasikan gaji yang berbeda pada masing-masing CEOnya, dan lagi-lagi keputusan ini berdasarkan pertimbangan para dewan direksi.

Baca juga: 7 Perusahaan Tertua di Dunia yang Masih Beroperasi

Banyak kritikus juga yang menganggap bahwa tingginya nilai kompensasi yang diberikan kepada para CEO di Silicon Valley ini menyebabkan ketimpangan sosial yang sangat tinggi dan disparitas kelayakan. Ini adalah permasalahan yang sangat serius. Lalu, bagaimana dengan gaji dari seorang CEO di perusahaan-perusahaan lainnya yang basisnya bukan di Silicon Valley?

Melalui sumber data yang sama, kita dapat melihat bahwa gaji dari CEO perusahaan yang termasuk ke dalam indeks S&P 500 (500 perusahaan terbesar di bursa saham AS), memiliki gaji rata-rata sekitar $12 juta USD pada tahun 2020. Disparitas seperti ini juga menimbulkan perhelatan tentang apa perbedaan antara perusahaan yang terletak di Silicon Valley atau perusahaan yang terletak di wilayah lainnya. Apakah biaya hidup mempengaruhi, apakah karena namanya sudah terkenal sebagai “rumah untuk banyak perusahaan teknologi ternama”? Apakah karena gengsi tersebut? Kita belum bisa menarik kesimpulan dari data tersebut.

Kita juga harus melihat perspektif lainnya tentang CEO dari perusahaan kecil atau startup-startup yang ada. Tidak ada CEO dari startup yang digaji setinggi figur tersebut. Omong-omong tentang startup, kamu harus tahu, ini dia 8 startup yang gagal merintis di Indonesia.

Meratapi Gaji CEO yang Terlalu Tinggi

Banyak yang berkata bahwa tingginya gaji CEO adalah sebuah harga yang harus dibayar untuk menarik minat dari talenta-talenta berbakat dalam industri yang sangat kompetitif. Karena, yang seringkali terjadi adalah kurangnya talenta berbakat yang mampu menjadi petinggi eksekutif dan mengembangkan perusahaan pada pasar yang sangat kompetitif.

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Starbucks Gagal di Australia?

Bahkan, perusahaan tersebut lebih memilih talenta CEO dan jajaran eksekutif lainnya melalui pekerja migran asal India—yang mana kita sudah sering melihat banyak CEO Silicon Valley yang merupakan orang India karena mereka berbakat dan sangat ahli dalam bidang teknologi. Para investor rela membayar CEO lebih tinggi daripada staf atau level manajer karena tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul sang CEO pada perusahaan ternama ini sangatlah berat.

Laporan terbaru dari New York Times menemukan bahwasanya CEO dari perusahaan yang sahamnya sudah diperdagangkan memiliki gaji 347x lebih besar daripada rata-rata gaji stafnya. Tren ini lebih masif terlihat pada perusahaan teknologi berbasis di Silicon Valley. Memang jika dilihat ketimpangan gaji ini sangatlah signifikan, namun, investor beranggapan bahwa yang terpenting adalah seorang CEO bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, meningkatkan harga saham, mengembangkan produk, bisa mengambil inisiatif yang baik untuk perusahaan, melakukan akuisisi dan implementasi budget dengan hati-hati. Kriteria tersebutlah yang sulit ditemukan, karena demandnya tinggi, ya akhirnya gaji CEO menjadi sangat tinggi sekali di AS.