News

5 Alasan Kenapa Starbucks Gagal di Australia

Starbucks adalah sebuah perusahaan kopi yang didirikan pada tahun 1971 sebagai kafe. Sekarang, Starbucks dikenal sebagai perusahaan rantai coffee shop terbesar di seluruh dunia dengan cabang lebih dari 35 ribu yang tersebar di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Tapi, gerai Starbucks justru gagal memasuki pasar Australia, mengapa bisa demikian? Mari kita ulas lebih lengkap.

Baca juga: Sejarah Bangkrutnya VOC: Korupsi hingga Konflik Perang

Gerai Starbucks sudah menjamur di Indonesia, tapi tidak dengan Australia. Starbucks memasuki pasar Australia pada tahun 2000. Hingga tahun 2008, Australia memiliki lebih dari 80 cabang. Tapi, di tahun yang sama juga, Australia menutup 70% dari total cabangnya di Australia sebagai imbas dari krisis finansial yang terjadi pada tahun 2008.

Mengapa bisa terjadi demikian? Dan mengapa Starbucks gagal di Australia?

Walaupun Australia mempunyai kultur dan perspektif yang berbeda untuk kopi, tetap saja, para warganya tidak begitu tertarik dengan Starbucks. Starbucks berkembang terlalu cepat padahal popularitasnya di negara yang terkenal “down under” tersebut sangatlah minim eksposur.

Dalam waktu 7 tahun pertama operasinya, Starbucks mengalami kerugian kumulatif lebih dari $100 juta USD atau setara dengan Rp 1,5 triliun. Mereka terlalu fokus pada penambahan jumlah gerai dibandingkan dengan menyesuaikan selera pasar warga Australia.

Baca juga: Persyaratan Menjadi Perusahaan Publik di Bursa Saham

Maka dari itu, kita akan membahas inilah alasan kegagalan Starbucks di Australia.

1. Kompetisi yang ketat

Kompetitor Starbucks adalah perusahaan lokal seperti Gloria Jean’s dan The Coffee Club. Kecintaan warga Australia terhadap rasa kopi lokal membuat para kompetitor ini jauh lebih unggul. Alasannya adalah Starbucks tidak menilai perspektif warga Australia yang kenyataannya mempunyai perasa dan estetika yang berbeda ketika berbicara mengenai dunia kopi.

Apalagi Starbucks ini tidak ingin beradaptasi untuk penetrasi pasar di Australia. Starbucks hanya menjual kopi secara umum yang dibawa dari Amerika Serikat ke Australia tanpa mengetahui preferensi warga lokal di sana. Alhasil, Starbucks kalah telak dengan kompetitornya.

Baca juga: Alasan Mengapa Banyak Startup Gagal di Indonesia

2. Tidak menghargai budaya lokal

Seperti yang mintor katakan tadi, Starbucks mengstandardisasi semua minuman kopinya untuk seluruh lokasi gerainya di dunia. Hal seperti ini tidak beresonansi dengan baik ke warga lokal Australia. Mereka mempunyai preferensi kopi yang berbeda dari yang disajikan oleh Starbucks.

Jadi, produk Starbucks tidak pernah menghargai budaya lokal. Tentu saja, semua ini ada sejarahnya. Australia adalah kontinen yang mayoritas warganya merupakan imigran dari Yunani dan Italia pada awal tahun 1900an. Mereka mempunyai kultur kopi yang berbeda dan juga terinspirasi dengan kultur kopi dari Britania Raya (sekarang Inggris).

Baca juga:

Contoh 8 Startup yang Gagal di Indonesia

Mengenal BlackRock, Perusahaan Manajemen Aset Terbesar di Dunia

Setelah beberapa lama menetap di Australia, mereka yang kemudian menjadi warga Australia itu mempunyai preferensi unik untuk kopi. Nah, Starbucks tidak menganalisis kultur atau budaya Australia ini, sehingga pada akhirnya produk kopinya gagal menembus pasar warga Australia.

3. Harga yang tinggi

Kenyataannya, Starbucks memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan pesaing lokalnya di Australia. Hal seperti ini membuat perusahaan kesulitan dalam menarik minat masyarakat yang sensitif terhadap harga. Apalagi berkaitan dengan faktor sebelumnya, tentu saja mayoritas masyarakat akan lebih memilih gerai kopi lokal dengan cita rasa yang sesuai dengan lidah mereka.

4. Kesalahan dalam memilih lokasi

Anehnya, jika Starbucks ingin menggaet konsumen lokal warga Australia, mereka pastinya harus memilih lokasi yang pas. Tapi, Starbucks justru mengimplementasikan langkah yang tidak strategis dimana ia membuka cabang hanya pada kota-kota turis.

Lokasi seperti ini kurang menarik animo warga lokal Australia karena eksposurnya sangat terbatas. Sehingga berpengaruh ke branding dan penjualannya di Australia. Walaupun begitu, Starbucks tetap membuka gerai di kota-kota turis ini karena mereka kini hanya fokus menggaet para wisatawan dan pelajar dari negara-negara di luar Australia.

5. Kapabilitas marketing yang terbatas

Kapabilitas marketing yang terbatas ditambah dengan kurang antusiasnya warga Australia terhadap brand Starbucks menjadi salah satu penyebab kegagalan gerai kopi ternama itu di Australia. Upaya mereka untuk bisa mendapatkan konsumen dan pelanggan tetap warga Australia tidak terlalu membawakan dampak yang signifikan.